Belajar Menyulam di Festival Sulam

VIVAlife – Keindahan sulaman bisa Anda lihat di berbagai benda. Mulai dari sarung bantal, sprei, mukena, tas hingga sandal. Kerajinan tangan satu ini memang selalu bisa mempercantik kain, sehingga terlihat istimewa dan khas.

Ingin belajar menyulam atau memanjakan mata dengan sulaman indah? Datang saja ke International Embroidery Festival 2012 yang dibuka Kamis 4 Oktober 2012 di Jakarta Convention Center.

Festival ini berupa pameran yang memperkenalkan kerajinan sulam Indonesia di dunia internasional. Bekerjasama dengan Yayasan Sulam Indonesia serta Dewan Kerajinan Nasional, menyajikan aneka ragam jenis sulam di Tanah Air.

Beragam jenis dan motif sulam tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, serta motif-motif kontemporer bisa Anda temukan. Ada pula beberapa negara yang ikut berpartisipasi diantaranya China dan India. Berbagai jenis sulam dari sulam hasil karya dalam negeri hingga luar negeri tersedia di sini.

Anda dapat menemukan jenis-jenis sulam terkenal dan bahkan baru Anda dengar. Seperti brazilian, strumpwork, wayang, hardanger, hongaria, kasap Aceh, sulam tumpar. Ada juga sulaman karawang, usus, tapis, bayangan, timbul, cross stitch, renda bangku, kepala samek, dan sulam dasar.

Proses menyulamnya ada yang memakai tangan dan ada pula yang memakai mesin. Ayu, salah satu peserta festival yang saat ditemui oleh VIVAlife sedang asik menyulam kain dengan sulam tapis sedikit bercerita tentang sulam jenis daerah asalnya yaitu Lampung.

“Sulam usus dan tapis contohnya adalah dua sulam asal Lampung. Kalau sulam tapis motifnya lebih banyak kapal, gajah, kerajaan karena menggambarkan Lampung dan suku bugis jaman dahulu. Hasil sulamannya bermacam-macam dapat berupa kain, selendang atau hiasan dinding. Sedangkan sulam usus sangat berbeda dengan sulam tapis,” ujar Ayu.

Walapun sama-sama berasal dari Lampung, namun sulam usus lebih mengandalkan permainan warna, dan tingkat kesulitannya juga lebih tinggi. Sulam usus bentuknya memanjang dan kain benang yang digunakan juga berbeda.

“Benang yang digunakan jenisnya banyak sekali, ada kupu-kupu dan lain-lain,” kata Ayu yang mengaku belajar menyulam dari ibunya.

Tak hanya jenis sulam dalam negeri yang dipamerkan. Ada pula jenis sulam dari negara lain contohnya adalah sulam brazilian.

“Untuk sulam brazilian benang yang digunakan berbeda, begitu pula dengan twist-nya, karena cara pembuatan benangnya juga berbeda,” ucap Hj. Siti Rahayu. S.Pd, salah satu peserta festival ini.

Ia bercerita mengenai kesulitannya menemukan benang khusus yang digunakan menyulam sulam brazilian karena di Indonesia tidak ada yang menjualnya. Siti akhirnya membeli via internet dengan harga yang cukup mahal. Teknik brazilian, menurut Siti ternyata cukup tinggi.

“Tingkat kesulitan sulam brazilian ini juga lebih sulit karena lebih rumit jadi seperti kerja dua kali lipat dari sulam biasa,” ujarnyanya.

Anda juga bisa melihat proses sulam strumpwork, seperti yang dikerjakan Roos Mengko Tobing. Ia mengaku mempelajari teknik sulam tersebut secara otodidak.

“Awalnya hobi, coba-coba, terus karena sering menyulam jadi mahir,” ujar Roos.

Siti dan Ross mengatakan bahwa saat ini di Indonesia memiliki banyak komunitas sulam. Salah satu komunitas yang sangat eksis adalah Komunitas Pecinta Sulam Indonesia.

“Setiap bulan sekali pasti mengadakan kegiatan, entah itu sekedar gathering, sharing, belajar menyulam bersama, workshop atau kegiatan lainnya,” kata Roos.

Jika Anda tertarik, bisa langsung datang ke festival ini. Hanya dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp250 ribu maka Anda dapat menjadi bagian dari komunitas ini.

Aktivitas seru

Tak hanya memamerkan produk kerajinan sulam, Anda pun dapat berkeliling melihat bazar yang menjual bermacam-macam kain tradisional dari Indonesia. Seperti batik, aksesori etnik, kebaya, furnitur, kerajinan tangan, lukisan, mukena, baju muslim, sajadah, jilbab dan masih banyak lagi. Ada pula workshop, seminar, talkshow hingga fashion show.

Festival yang mengusung tema ‘Sulam dalam Persahabatan Global’ tersebut dihadiri perwakilan negara sahabat dan organisasi internasional di Indonesia. Bagi Anda yang ingin melihat-lihat hasil warisan budaya Indonesia dan berbelanja tentunya, tak perlu khawatir karena festival ini diadakan 4 hari yaitu dari  4 hingga 7 Oktober 2012.

Sumber : life.viva.co.id

Advertisements